Tabalong Terima Banpres Rp10 Miliar untuk Penanganan Karhutla, DLH Imbau Warga Tidak Membakar Lahan dan Sampah

TABALONG — Pemerintah Kabupaten Tabalong dipastikan menerima Bantuan Presiden (Banpres) sebesar Rp10 miliar untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Bupati Tabalong H. Muhammad Noor Rifani mengatakan bantuan tersebut telah diterima pada Rabu sore, 21 Oktober 2026, melalui Sekretariat Presiden Republik Indonesia.
Kepastian itu sekaligus mematahkan isu yang menyebut Kabupaten Tabalong tidak mendapatkan Banpres untuk penanganan karhutla.
Bupati Tabalong mengatakan Pemkab Tabalong akan berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan relawan Unit Penanggulangan Bencana Swadaya (UPBS) untuk memetakan kebutuhan di lapangan.
Pemetaan dilakukan agar bantuan dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan dalam penanganan karhutla. Bantuan tersebut akan mendukung sejumlah kebutuhan operasional, seperti bahan bakar minyak (BBM), konsumsi relawan yang bertugas, serta sarana dan prasarana penanggulangan karhutla.
“Ini merupakan amanah yang harus kita gunakan untuk penanggulangan karhutla,” kata H. Fani, sapaan akrab Bupati Tabalong.
Bupati berharap tambahan anggaran tersebut dapat memperkuat penanganan karhutla sehingga upaya di lapangan dapat dilakukan secara lebih terarah dan intensif.
Meski bantuan telah diterima, kewaspadaan terhadap potensi karhutla tetap perlu ditingkatkan. Musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga akhir Oktober.
Di tengah upaya penanganan tersebut, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tabalong mengajak masyarakat turut menjaga lingkungan dengan tidak membakar lahan maupun hutan yang dapat memicu karhutla, sehingga risiko kebakaran dapat ditekan dan kondisi lingkungan tetap terjaga.
DLH Kabupaten Tabalong juga mengimbau masyarakat untuk tidak membakar sampah karena dapat menambah asap dan memperburuk kualitas udara. Partisipasi warga dalam menghindari pembakaran sampah menjadi bagian dari upaya bersama menjaga kualitas udara dan kenyamanan lingkungan, terutama saat terjadi karhutla.